JAKARTA, KOMPAS.com - Pembukaan kantor Apple di Indonesia semakin jelas. Setelah ditemukan adanya entitas perusahaan PT Apple Indonesia, kini terungkap alamat kantor perwakilannya di Jakarta.

Apple memutuskan untuk membuka kantor di Gedung World Trade Center II Lantai 18, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta. Alamat tersebut juga tercantum dalam halaman kontak situs web resmi Apple Indonesia.

Kabar ini pertama kali diwartakan oleh situs teknologi MakeMac.com. Namun, belum diketahui secara pasti kapan Apple akan meresmikan pembukaan kantornya di Jakarta.

Rencana Apple membuka kantor di Jakarta mulai terdengar pada Desember 2012. Kala itu perusahaan telah mendapat izin investasi dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) dan mulai membuka lowongan kerja untuk beberapa posisi di Jakarta.

Belakangan, Apple semakin banyak membuka lowongan kerja di Jakarta lewat situs resmi maupun jejaring sosial profesional LinkedIn.

Oleh siapa Apple Indonesia akan dipimpin? Dan, strategi bisnis macam apa yang akan mereka jalankan? Tunggu saja hingga perusahaan tersebut meresmikan kantornya di Jakarta.

Disclosure: MakeMac.com adalah anak perusahaan Apps Foundry Pte, Ltd. Kelompok Kompas Gramedia melalui anak usaha Grup Digital, PT Gramedia Digital, memiliki investasi strategis di Apps Foundry.
Read More
SEOUL, KOMPAS.com - Samsung Electronics saat ini merupakan pemimpin pasar untuksmartphone dunia. Dengan mengandalkan Android Galaxy-nya, Samsung dalam empat tahun terakhir selalu berhasil menjadi pemegang pangsa pasar ponsel pintar terbesar.

Laporan terbaru dari firma riset Strategi Analytics mencatat pangsa pasar sebesar 31,2 persen disusul Apple di tempat kedua dengan capaian 15,3 persen.

Setelah sukses di bisnis smartphone, raksasa elektronik asal Korea Selatan ini berambisi menjadi nomor satu di bisnis perangkat lainnya, yaitu printer.

"Samsung ingin menjadi nomor satu di segala lini. Setelah sukses di TV dan smartphone, Samsung ingin nomor satu di bisnis printer," kata VP Product Strategy Group in Printing Solutions Samsung, Hyesung Ha, Kamis (16/5/2014), di Seoul, Korea Selatan.

Sebagai informasi, bisnis perangkat printer saat ini memang masih didominasi oleh Hewlett Packard (HP) dan Canon.

Untuk menjadi nomor satu, menurut Hyesung, Samsung telah melakukan perombakan besar di internal. Salah satunya dengan melakukan "reborn" unit bisnis printer dan menjadikannya unit bisnis tersendiri.

Samsung mengaku sedikit terlambat serius terjun di area pencetakan dokumen ini. Printer Samsung sendiri sebenarnya sudah hadir sejak tahun 1982.

Berbeda dengan yang dilakukan di bisnis smartphone, unit bisnis printer Samsung akan fokus ke segmen business-to-business (B2B). 

"Samsung memilih fokus ke B2B karena hasil riset menunjukkan potensi keuntungan terbesar untuk bisnis printer ada di segmen korporasi, " ungkap Hyesung. "Penggunaan perangkat pencetakan oleh segmen korporasi merupakan yang terbesar, mencapai 85 persen".

Selain itu, Samsung menganggap printer sudah menghilang dari pasar konsumer (B2C). Tren penggunaan perangkat mobile membuat pengguna lebih jarang mencetak hasil foto atau dokumen.

Meski demikian, tren mobile ini tak dianggap sebelah mata oleh Samsung. Mobile printingjuga menjadi salah satu strategi dari ambisi Samsung untuk menjadi nomor satu di bisnis ini. Tingginya penggunaan gadget di lingkungan perusahaan, atau yang lebih dikenal dengan istilah BYOD (bring your own device), membuat Samsung tak main-main di area ini.

Printer Samsung ke depannya akan selalu dibekali dengan teknologi yang mendukung perangkat mobile. Teknologi tersebut antara lain, cloud printing, NFC yang memungkinkan pengguna mencetak hanya dengan men-tap ponsel ke printer, Bluetooth, dan WiFi Direct.

Menargetkan segmen B2B, selain menjual printer dan mesin fotokopi, Samsung juga akan menawarkan solusi dan layanan terpadu pencetakan dokumen yang biasanya dibutuhkan di perusahaan-perusahaan.

Samsung menargetkan tahun 2020 mereka sudah bisa menjadi nomor satu di bisnis cetak-mencetak dokumen ini.
Read More
JAKARTA, KOMPAS.com - Butuh waktu lama bagi Telkom Flexi dan Indosat StarOne untuk beralih teknologi dari Code Division Multiple Access (CDMA) ke Extended-Global System for Mobile (E-GSM). Hal ini disebabkan belum adanya regulasi untuk menerapkan teknologi netral di spektrum frekuensi 850MHz yang dimiliki kedua layanan tersebut.

Dirjen Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo), Muhammad Budi Setiawan mengatakan, permintaan alih teknologi Flexi dan StarOne paling cepat bisa dilakukan dalam waktu 2 sampai 3 tahun mendatang.

Menurutnya, Indosat bisa lebih cepat alih teknologi karena merek StarOne berada di bawah Indosat. Sedangkan Telkom, yang rencananya akan mengalihkan pelanggan Flexi ke Telkomsel, butuh waktu lebih lama lantaran Telkom dan Telkomsel merupakan dua entitas yang berbeda.

“Telkom tidak bisa migrasi dan mengalihkan frekuensi begitu saja ke Telkomsel, karena mereka beda entitas. Kecuali mereka join. Operasional dibantu Telkomsel, sementara jaringan tetap dimiliki Telkom untuk roaming,” jelas Budi saat ditemui di Jakarta, Selasa (13/5/2014).

Sejauh ini Kemenkominfo baru membuat aturan teknologi netral di spektrum frekuansi 900MHz dan 2.300MHz. Sementara di spektrum 850MHz, belum ada aturan itu.

Teknologi netral memungkinkan keleluasaan penggunaan spektrum frekuensi yang dimiliki operator telekomunikasi. Misalnya, spektrum 850MHz yang selama ini dimanfaatkan untuk jaringan CDMA, dapat digunakan untuk menggelar jaringan E-GSM.

Indosat sebenarnya menginginkan agar StarOne dapat memanfaatkan spektrum 900MHz, karena mereka telah mendapatkan izin teknologi netral di frekuensi tersebut.

Hambatan

Namun, rencana peralihan teknologi Flexi dan StarOne ini akan terkendala sejumlah masalah yang mungkin akan mengganggu kenyamanan pelanggan. Pertama, pelanggan harus mengganti perangkat dengan ponsel yang mendukung GSM.

Dalam hal ini, Budi pernah berkata sebaiknya operator telekomunikasi bisa memberi subsidi perangkat untuk pelanggan.

Kedua, masalah penomoran. Besar kemungkinan nomor ponsel pelanggan akan berganti karena Flexi dan StarOne memegang lisensi Fixed Wireless Access (FWA) atau Telepon Tetap Nirkabel, yang berarti layanan mobilitasnya terbatas.

Sistem penomoran Flexi dan StarOne menggunakan nomor telepon tetap berdasarkan geografis atau dikenal dengan nomor telepon rumah yang memakai kode area seperti “021” untuk Jakarta atau “022” untuk Bandung.

Sementara teknologi GSM atau seluler, dengan layanan mobilitas tak terbatas, sistem penomorannya menggunakan standar National Destination Code (NDC), seperti awalan "0812" untuk nomor telepon Telkomsel Simpati, "0815" untuk Indosat Mentari, atau 0818 untuk XL Axiata.

Masalah ketiga adalah interferensi. Frekuensi 850 MHz selama ini digunakan untuk menggelar layanan berbasis CDMA oleh operator pemegang lisensi FWA. Nah, jika kemudian ada operator telekomunikasi yang menggelar GSM di 850 MHz, diprediksi akan terjadi interferensi di mana sinyal suatu operator akan mengganggu sinyal operator lain.
Read More
KOMPAS.com -- BlackBerry kembali diterpa kabar buruk, kali ini datang dari firma riset pasar ABI Research.

Laporan kuartal pertama 2014 lembaga tersebut menyebutkan bahwa angka pengapalan global perangkat BlackBerry 10 pada tiga bulan pertama tahun ini mengalami penurunan sebesar 14 persen dibanding kuartal sebelumnya.

Sebagaimana dilaporkan oleh Phone Arena, pangsa pasar BlackBerry 10 pun tak masuk dalam skala persentase ABI Research, alias tak sampai 1 persen.

Nasib serupa dialami platform BlackBerry OS (OS7) berisi perangkat-perangkat lawas yang, menurut ABI Research, mengalami penurunan sebesar 79 persen dari kuartal lalu.

Jika dibandingkan kuartal yang sama pada 2013, melorotnya dua platform BlackBerry itu terlihat lebih jelas.

Angka pengapalan year-on-year BlackBerry 10 turun 44 persen dari 981.300 unit menjadi 550.000 unit, sementara BlackBerry OS terjun bebas sebesar 86 persen dari 5.426.500 unit menjadi 750.000 unit, masih menurut data ABI Research.

Sebaliknya, pengapalan tiga platform lain tercatat naik. Pertumbuhan terbesar dialami Windows Phone dengan 119 persen dibanding kuartal yang sama tahun lalu, sementara Android dan iOS masing-masing mencatat pertumbuhan 24 persen dan 17 persen.

ABI Research turut mencatat angka shipment basic (featurephone yang masih mencapai 127 juta unit pada kuartal pertama 2014. Namun, angka tersebut sudah menurun sebesar 44 persen dibandingkan kuartal pertama 2013.
ABI Research via Phone Arena
Laporan pengkapalan ponsel kuartal pertama 2014 dari ABI Research
Read More
KOMPAS.com -- Perangkat kacamata pintar Google Glass diecer seharga 1.500 dollar AS atau sekitar Rp 17,3 juta ketika dijual bebas selama satu hari pada 15 April lalu. Harga yang terbilang tinggi itu sama dengan yang ditarik Google dari para beta tester yang termasuk dalam program Glass Explorer.

Benarkah Google Glass memang semahal itu? Situs Teardown.com mencoba mencari tahu dengan membongkar kacamata pintar tersebut dan menelusuri harga masing-masing komponen.

Hasilnya? Diperkirakan ongkos material Google Glass sebenarnya tak lebih dari 80 dollar AS atau sekitar Rp 930.000.

Sebagaimana dikutip oleh ArsTechnica, penjabaran nilai komponen yang dijabarkan Teardown mencakup kamera 5 megapixel (5,66 dollar AS), memori flash NAND 16GB (8,18 dollar AS), dan seterusnya dari sudut pandang pembelian dalam jumlah besar.

Komponen paling mahal adalah prosesor Texas Instrument OMAP 4430 yang harganya disebut sebesar 13,96 dollar AS.
Teardown.com
Rincian perkiraan harga komponen Google Glass dari Teardown
Menanggapi laporan dari Teardown, juru bicara Google mengatakan bahwa perkiraan harga komponen tersebut tak benar. "Ongkos pembuatan Glass Explorer Edition jauh lebih besar," tulisnya dalam sebuah e-mail kepada PCMagazine. Tetapi, ia tak merinci lebih jauh berapa persisnya biaya produksi yang dikeluarkan Google.

Adapun Teardown hanya membuat estimasi kasar yang didasarkan pada harga komponen. Angka total dalam perkiraan tersebut belum menghitung biaya riset dan pengembangan, serta pembuatan aplikasi dan layanan yang berjalan di perangkat itu.

Glass juga dirakit dalam jumlah terbatas di California, AS, sehingga memerlukan biaya relatif lebih tinggi dibandingkan gadget mobile lain yang umumnya diproduksi massal di Asia.

Namun, tetap saja hasil penelusuran Teardown menimbulkan tanda tanya besar seputar keputusan Google menjual mahal perangkat kacamata pintarnya. Terlebih, perkiraan nilai total harga komponen yang diajukan tak sampai 10 persen dari harga yang dipatok oleh raksasa internet tersebut.
Read More
KOMPAS.com - Grup Nokia telah melepas unit bisnis ponselnya kepada Microsoft. Kini, grup bisnis telekomunikasi yang berbasis di Espoo, Finlandia, itu mengandalkan tiga unit bisnis yang tersisa dan telah menunjuk CEO baru, Rajeev Suri, sebagai nahkoda baru Grup Nokia.

Dalam sebuah pengumuman pada Selasa (29/4/2014), Nokia mengumumkan bahwa Suri akan memimpin tiga bisnis, yakni; infrastruktur jaringan dan layanan telekomunikasi (Nokia Solutions and Networks), layanan peta digital dan navigasi (Here), pengembangan teknologi dan lisensi paten (Advanced Technologies).

Chairman Nokia, Risto Siilasmaa mengatakan, Suri memiliki kemampuan dalam membuat strategi bisnis yang jelas, mendorong inovasi dan pertumbuhan bagi Nokia. "Dalam membuka bab baru bagi Nokia, direksi Nokia dan saya yakin bahwa Rajeev adalah orang yang tepat untuk memimpin perusahaan di masa depan," kata Siilasmaa, seperti dikutip dari Reuters.

Sebelum menjadi pemimpin puncak Nokia, sebelumnya Suri menjabat sebagai CEO Nokia Solutions and Networks (NSN).

Suri bergabung dengan Nokia pada 1995 dan menjabat sebagai kepala bisnis peralatan seluler di NSN, yang kala itu bernama Nokia Siemens Network dan merupakan perusahaan patungan antara Nokia dan Siemens asal Jerman. Pada Agustus 2013, Nokia membeli seluruh saham Siemens di perusahaan itu sebesar 1,7 miliar euro.

Setelah menjual unit bisnis ponsel kepada Microsoft, Grup Nokia juga mengumumkan restrukturisasi bisnis yang tersisa, serta program peningkatan modal 5 miliar euro (sekitar 6,9 miliar dollar AS), yang mencakup pembelian kembali saham, peningkatan dividen, dan pengurangan utang.

Di bawah kepemimpinan Suri, Grup Nokia berkomitmen untuk memperkuat investasi dalam bisnis peralatan jaringan dan teknologi telekomunikasi di segmen korporasi, yang juga meliputi lisensi paten.

"Industri hak paten terkemuka Nokia memiliki potensi untuk menciptakan nilau yang signifikan bagi pemegang lisensi dan pemegang saham kami," ungkap Suri. "Dengan kekuatan tim teknologi kami dan melanjutkan investasi dalam penelitian dan pengembangan, kami juga dapat mendorong peluang baru bagi Nokia di segmen bisnis dan pasar konsumen."

Secara perlahan, perusahaan itu berencana mengganti nama dan unit bisnis NSN menjadi "Nokia." Sementara itu, nama unit bisnis layanan peta digital dan navigasi Here tetap dipertahankan, namun dalam beberapa kasus akan ditambahkan slogan "A Nokia Company."
Read More
KOMPAS.com — Laporan "State of the Internet" edisi terbaru untuk kuartal IV 2013 menyebutkan bahwa kecepatan koneksi internet rata-rata global telah mengalami peningkatan sebesar 5,5 persen, dari 3,6 Mbps pada kuartal sebelumnya menjadi 3,8 Mbps.

State of the Internet menyajikan hasil riset lembaga penyedia layanan cloud global Akamai Technologies Inc dari hasil penelitian yang mencakup 133 negara di seluruh dunia.

Disebutkan pula bahwa kecepatan akses internet rata-rata di  Indonesia telah meningkat sebesar 0,1 Mbps dari kuartal sebelumnya menjadi 1,6 Mbps pada kuartal IV 2013. Meski demikian, angka tersebut masih jauh di bawah dan tidak sampai setengah dari rata-rata global.

Di wilayah Asia Pasifik, kecepatan akses internet Indonesia itu hampir menyentuh posisi juru kunci dan hanya berbeda tipis dari India yang mencatat angka 1,5 Mbps di urutan terbawah.
Akamai Technologies Inc.Tabel kecepatan akses internet rata-rata untuk wilayah Asia Pasifik
Sebagaimana terlihat dalam tabel Akamai di atas, negara-negara tetangga seperti Singapura, Filipina, Vietnam, Malaysia, dan Thailand memiliki kecepatan akses internet rata-rata di atas Indonesia.

Angka kecepatan akses internet rata-rata terkencang di Asia Pasifik masih dipegang oleh Korea Selatan dengan 21,9 Mbps, disusul oleh Jepang dengan 12,8 Mbps. Kedua negara juga menduduki posisi pertama dan kedua terkencang secara global, sementara Indonesia duduk di peringkat ke-118.

Dari segi adopsi broadband, pada kuartal IV 2013, baru 0,1 persen pengguna internet Indonesia bisa menikmati kecepatan koneksi di atas 10 Mbps, sementara di Korea Selatan sudah mencapai 71 persen pengguna.

Jika standar itu diturunkan menjadi 4 Mbps, maka 94 persen pengguna internet Korea Selatan sudah melewati kecepatan tersebut, berbanding 1,8 persen di Indonesia.  
Akamai Technologies Inc.
Tabel angka adopsi koneksi internet high broadband (>10 Mbps) dan broadband (>4 Mbps) di wilayah Asia Pasifik
Laporan State of the Internet kuartal IV 2013 turut mencatat penurunan jumlah serangancyber yang berasal dari Indonesia menjadi 5,7 persen dari total serangan yang dilancarkan di seluruh dunia.

Sebelumnya, pada kuartal II 2013, Indonesia sempat menjadi sumber terbesar serangancyber dengan kontirbusi 38 persen dari total serangan.
Read More
Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home